23 Oktober 2012

Kata mereka...

Iseng, pas pelajaran kosong. Nanya-nanya ke anak sekelas tentang gue. Dan kata mereka, gue itu....

Imaginer - Muti
Kocak - Pandan
Cantik - Rizky
Aktif - Elvira
Agamis - Tasya
Humble - Anita
Moody - Bella Mus
Nyolot - Tika
Baik - Theresya
Pede - Zahra
Pintar - Reti
Narsis - Depe
Unpredictable - Afri
Emosional - Dini
Putri tidur - Sinta
Anak kecil - Gita
Rusuh - Euis
Jujur- Bella Ap
Nyantai - Winda
Perhatian - Mia

22 Oktober 2012

Ceritanya...

Seseorang yang mestinya menjadi penyemangat kami.
Seseorang yang mestinya menjadi motivasi kami.
Seseorang yang mestinya jadi tempat keluh kesah kami.
Tapi malah menjadi,
Seseorang yang membuat kami jatuh.
Seseorang yang membuat kami terluka.
Seseorang yang membuat kami tidak semangat.
Sakit.
Diperlakukan secara subjektif.
Selalu disalahkan dengan kesalahan yang tidak rasional.
Satu dan dua kali, masih diwajarkan.
Lebih?
Malah ada sakit yang ada di hati kami.
Bukan menjadi semangat belajar kami.
Bisakah sedikit menghargai hasil kerja keras kami?
Bisakah untuk tidak memperlakukan kami secara subjektif?
Bisakah untuk tidak mencari kesalahan yang tidak masuk akal?
Bisakah membuat kami semangat dan termotivasi?
Bisakah sekali untuk tidak membandingkan kami?
Bisakah untuk tidak membuat kami terluka dengan mood?

9 Oktober 2012

Karena nilai

Nilai.
Hidup itu emang enggak terlepas dari nilai. Tolak ukur seseorang atas usaha seseorang tersebut.
Untuk sebagian orang, enggak penting proses mendapatkan nilai, yang ada "pokoknya yang penting gue harus dapat nilai bagus diantara yang lain". Sering gue denger perkataan kaya gitu. Enggak munafik, gue sendiri dan mungkin lo yang lagi baca postingan gue yang ini. Pasti pernah juga bilang kaya gitu dan punya tekad dalam hati kaya gitu juga.
Lagi-lagi harus nilai dan demi nilai. Terkadang, dibegoin sama nilai. Entah itu baik atau enggak prosesnya tapi tujuan utamanya itu dapat nilai bagus. Dari SD, SMP, sampai SMA cuman mau dapat nilai yang bagus diantara yang lain tapi proses, nol, itu sama aja bohong.
Nilai, buat orang-orang jadi individualisme. Dan juga buat ketidakadilan, menurut gue. Kaya gini; Ketika lo belajar sampai tengah malam, tidur lo cuman beberapa jam, demi hasil yang bagus dengan usaha lo sendiri. Tapi taunya oranglain mendapatkan nilai bagus dengan mudahnya, kerena tau kunci jawabannya. Atau ketika lo yakin dengan nilai-nilai ulangan harian, uts, dan ujian semester selalu dapat nilai bagus, tapi ternyata nilai lo dirapor enggak seperti itu. Tapi malah orang lain yang nilai ulangan harian, uts, dan ujian semester biasa aja tapi karena deket dengan guru, nilainya lebih bagus dari lo. Atau saat lo harus menghafal dan memahami suatu pelajaran. Tapi oranglain dengan mudahnya membuka buku pada saat ujian atau mencari jawaban lewat sms. Bagaimana rasanya? :)

[Reblogged] Saat Ujian

Suasana saat ujian kenaikan kelas itu akan berbeda rasanya tiap orang yang merasakan. Jika kita telaah, sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi seorang siswa/i itu bisa mendapat nilai yang memuaskan saat ujian. Kata memuaskan itupun dinilai relatif, tergantung orang yang menilainya. Baik, akan saya beberkan beberapa faktor tersebut, sesuai dengan pandangan pribadi saya.
Seorang siswa/i bisa mendapatkan nilai memuaskan karena benar-benar dari jerih payahnya sendiri dan usaha kerasnya dalam belajar, atau.. pertanyaan di bawah ini mungkin bisa membuat anda berpikir ulang:
  • siapakah teman sebangku anda saat ujian, kakak kelas, atau adik kelas?
  • siapakah teman sebangku anda saat ujian, orang yang pintar atau kurang begitu pintar?
  • apakah guru pengawas anda galak?
  • beranikah anda menoleh mencari jawaban kepada teman anda?
  • beranikah anda membuka handphone untuk melihat kunci jawaban yang teman-teman anda kasih kepada anda?
  • lengkapkah catatan anda?
  • ketika istirahat saat ujian, apakah yang anda lakukan? pergi ke kantin atau tetap di dalam kelas?
  • apakah anda termasuk orang yang up to date tentang kisi-kisi ujian?
  • apakah anda termasuk orang yang rajin ke tukang fotocopy?
  • yang mana anda, liat essay terlebih dahulu atau pilihan berganda dahulu?
  • seberapa dekatkah anda kepada guru?
  • sepintar apakah anda 'merayu' guru?
  • ketika ujian, apakah anda yakin 'amunisi' anda sudah cukup?
  • apakah ada kegiatan yang menurut anda penting tetapi nyatanya menggangu konsentrasi ujian anda?
  • saat ujian, anda duduk di posisi paling depan, tengah, atau belakang?
  • saat ujian, apakah anda memastikan meja anda memiliki loker atau tidak?
  • saat ujian, ruangan tempat anda ujian, apakah dekat dengan kantin?
  • apakah anda termasuk orang yang tiba-tiba menjadi 'kepo' dan tidak ingin ketinggalan berita?
  • apakah anda pulang cepat atau tidak saat ujian?
  • seberapa panjang nama anda jika ditulis di LJK?
  • seberapa baik anda memberi jawaban kepada sesama teman anda?
Sebenarnya masih banyak lagi faktor yang mempengaruhi hal tersebut, mungkin ada beberapa faktor yang tidak berkesinambungan, tetapi menurut hemat saya, jika memang faktor ini ditelaah sampai ke akarnya, mungkin anda akan sependapat dengan saya.

Latar belakang saya membuat post ini adalah ketika saya merasakan adanya ketidakadilan. Ketika ada orang yang susah payah belajar mungkin hingga paruh malam, masih ada orang yang menggantungkan nasibnya kepada orang lain, dan rasa tidak adil itu muncul ketika nilai mereka berdua berbanding terbalik dengan usaha mereka.

Satu pertanyaan lagi yang mungkin akan membuat anda berpikir ulang kembali. Masihkah ada orang yang sangat rajin membuat post di blognya sendiri tentang faktor-faktor yang mempengaruhi seorang siswa/i dalam mendapatkan nilai yang memuaskan padahal mungkin dirinya sendiri sedang menuju proses itu? Ada saja jika ditelaah

[Reblogged from Andina's Blog]

4 Oktober 2012

...sedang labil-labilnya

Entah kenapa gue ngerasa ini postingan enggak terlalu penting tapi harus gue publish di blog gue ini. Jujur aja, dengan menulis dan mengeluarkan unek-unek gue, gue merasa lebih plong.
Jadi sekarang gue duduk dikelas 12 SMA. Yaa bisa dibilang paling senior di Sekolah. Kali ini, gue labil bukan karena perasaan, cinta, suka, patah hati, ataupun galau yang sejenisnyalah. Tapi sedang labil dengan Jurusan. Apa sih sebenarnya bakat gue? Yang paling menonjol di diri gue apa? Pelajaran apa? Keterampilan apa? Terus nanti gue ambil apa kedepannya?
Nah itu sebagian pertanyaan yang masih ada dibenak gue. Segalau-galaunya gue, baru galau tingkat dewa ya baru sekarang. Selabil-labilnya gue, baru labil banget ya sekarang. Mungkin ya enggak cuman gue aja, tapi temen-temen gue yang lain juga sama.
Berharap hari ini dan seterusnya, Allah SWT membukakan jalan dan mempermudah kedepannya untuk pilihan jurusan dan universitas yang diambil. Aminnn~

1 Oktober 2012

Ketika semua orang punya perasaan





Ruang yang sempit dan penuh orang, seakan sunyi.
Suara yang hening tetapi penuh kekerasan makna.
Alunan merdu seperti dongeng anak yang akan tidur.
Diam, dan renungkan.
Sakit, tapi harus didengar.
Apa gunanya pegangan tangan?
Saat tak lagi ada kepercayaan.
Ucapan seolah-olah diabaikan.
Tindakan seperti diacuhkan.
Lalu, apa fungsinya semua ini?
Hanya nama yang terpangpang.
Dengan gaya seribu laga.
Ini ruang terlalu sempit.
Atau perasaan yang terlalu mengalir dengan perkataan?




Copyright @ LOVERA | Floral Day theme designed by LOVERA | Bloggerized by LOVERA